Peristiwa Minamata dan Fenomena Sampah Elektronik Saat Ini


















Sahabat Kophi, masih pada ingat enggak sama Peristiwa Minamata? Yang suka sejarah pasti masih ingat. Nah, bagi yang udah lupa yuk mari kita review bareng-bareng. Jadi, Peristiwa Minamata itu adalah peristiwa keracunan logam berat yang menimpa penduduk Minamata, Selatan Jepang, akibat mengkonsumsi ikan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Menurut sejarah, logam berat yang terkandung dalam ikan tersebut berasal dari sebuah industri pewarna kuku yang secara sembarangan membuang limbahnya ke teluk Minamata. Sehingga, berakibat pencemaran lingkungan dan keracunan pada ekosistem teluk yang berujung pada kematian massal penduduk sebagai pengkonsumsi ikan.  

Peristiwa Minamata di atas menyisakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, bahwasanya kelalaian dan pengabaian terhadap pelestarian lingkungan bisa berujung pada kehilangan nyawa dalam jumlah yang besar. Nah, terus sekarang apa? Tenang aja, kita kan gak banyak-banyak makan ikan? Kita kan kan gak tinggal di daerah yang dekat dengan daerah industri? Lagipula, sekarang kan sudah ada Amdal? Iya, memang benar Sahabat Kophi. Meskipun, keadaan geografis maupun sosiologis kita berbeda dengan penduduk Minamata, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa Peristiwa Minamata tidak akan mungkin menimpa kita. Malah, peluangnya lebih besar, hanya saja dengan konteks yang berbeda. Bagaimana bisa?

Tentu bisa. Era globalisasi yang sarat dengan inovasi-inovasi serta teknologi yang berkembang kian canggih ternyata selain memberikan kemudahan-kemudahan bagi kita dalam beraktivitas, juga membawa dampak negatif bagi kelangsungan hidup kita. Salah satunya adalah bahaya akibat jumlah E-waste atau sampah elektronik yang kian meledak dari hari ke hari. Memangnya kenapa dengan sampah elektronik? Dan apa pula hubungannya dengan peristiwa Minamata? Sahabat Kophi, sama halnya dengan Peristiwa Minamata, sampah elektronik juga berpotensi mengakibatkan keracunan logam berat. Mengapa? Karena sampah elektronik mengandung bahan-bahan kimia yang sangat sulit terurai dan termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan beracundan berbahaya). Seperti, timah, tembaga, kaleng, silikon, merkuri, cadmium, lithium, germanium, nikel, thalium, dan masih banyak lagi.


Pada Peristiwa Minamata, karacunana logam hanya terjadi di sekitar teluk Minamata. Berbeda dengan bahaya akibat sampah elektronik, setiap orang dimanapun bisa saja terkena keracunan logam. Bagaimana tidak? Aktivitas kehidupan manusia saat ini tidak akan bisa terlepas dari peralatan elektronik. Mulai dari kebutuhan di dapur seperti, penanak nasi (rice cooker), oven microwave, kompor listrik, blender, kulkas, mesin cuci, dispenser, televisi, radio, komputer, laptop, telepon genggam (HP), pendingin ruangan (AC), kipas angin, dsb. 

Akibat ketahanan produk yang rendah sehingga cepat rusak ataupun akibat inovasi-inovasi yang kian pesat sehingga banyak orang yang gonta-ganti gadget untuk memenuhi tuntutan life style telah menyebabkan sampah elektronik kian menumpuk. Menurut majalah Femina, Indonesia menghasilkan 6000 ton sampah elektronik setiap tahunnya dan angka tersebut baru bersumber dari sampah rumah tangga. Sedangkan menurut UNEP, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Program Lingkungan, sampah elektronik meningkat sebanyak 40 juta ton per tahun. Diantaranya adalah sampah komputer bekas yang melonjak dibandingkan tahun 2007 dari 200 persen ke 400 persen di Afrika Selatan dan Cina, bahkan di India melambung hingga 500 persen.

Lalu, bagaimana sampah elektronik bisa menyebabkan keracunan logam bagi kita? Nah, kebanyakan orang yang tidak paham biasanya membuang secara sembarangan sampah elektronik tersebut, ketika dibuang di landfill (ditimbun), bahan-bahan kimia tersebut mengalami proses dekomposisi dan masuk ke dalam tanah, lalu dari tanah meresap ke water stream, dan selanjutnya menyatu dengan air, bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kehidupan kita. 


Sehingga akan mengakibatkan keracunan pada ekosistem perairan. Misalnya, ikan yang kemudian kita konsumsi. Sedangkan jika dibakar, e-waste tadi bisa melepas bahan-bahan beracun melalui udara, yang dapat mengakibatkan kita keracunan logam lewat udara. Sama halnya dengan Peristiwa Minamata, keracunan logam akibat sampah elektronik dapat memicu penurunan IQ, merusak sistem saraf, mengganggu sistem peredaran darah, ginjal, perkembangan otak anak, cacat bawaan, efek racun, alergi, kerusakan DNA, hingga kematian.

Menyeramkan, bukan? Produksi barang-barang elektronik yang beroperasi setiap hari menyulitkan kita untuk mengurangi jumlah sampah elektronik. Bagaimana dengan daur ulang? Untuk negara Indonesia sendiri, yang kecanggihan teknologinya belum memadai, masih sulit untuk melakukan penyediaan teknologi daur ulang sampah elektronik. Bahkan, pemerintah sendiri belum memiliki Peraturan Pemerintah (PP) terkait penanganan sampah elektonik. Sedihnya lagi adalah, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor sampah elektronik dari negara maju untuk kemudian dirakit kembali dan dijual.

Jadi apa solusi yang dapat kita lakukan saat ini? Karena sampai saat ini pemerintah juga belum memiliki regulasi yang pas dalam menangani sampah elektronik, maka sebaiknya kita melakukan perubahan ataupun penanganan dari kehidupan kita sendiri ataupun life style kita. Jika kita memiliki barang elektroning yang rusak, kembalikan barang tersebut kepada produsen melalui program extended producer responsibility (EPR). Produsen sebagai penjualnya hendaknya memiliki komitmen untuk mengambil kembali produk mereka yang tidak terpakai untuk meminimalisir pencemaran lingkungan. 


Mulailah memprioritaskan pembelian alat elektronik berdasarkan penting tidaknya, jika tidak rusak jangan diganti dulu atau gonta-ganti. Jika punya banyak barang elektronik yang sudah tidak terpakai di rumah jangan dibuang sembarangan, kumpulkan di satu tempat lalu carilah informasi penerimaan barang elektronik bekas untuk di recycle. Atau, mungkin sebagai solusi yang lebih kreatif, meskipun tidak dapat mengurangi jumlah sampah elektronik namun sampah elektonik tersebut dapat diberdayakan, seperti yang dilakukan oleh seniman-seniman di luar negeri. 

Ann Smith, misalnya. Seniman dari Amerika yang membuat patung hewan dari sampah elektronik. Rodrigo Allonso, seniman dari Chilli yang mengubah sampah elektronik menjadi kursi unik berwarna-warni. Nah, selain membantu mengendalikan pencemaran akibat sampah elektronik, seniman-seniman ini justru memperoleh keuntungan yang besar dengan memamanfaatkan sampah-sampah tersebut. Menarik bukan? Ayo, Sahabat Kophi, temukan ide kreatif kamu untuk membantu pengurangan sampah elektronik sehingga kita tidak akan pernah mengulang sejarah Peristiwa Minamata. Salam Hijau!

Rika Harahap
Koordinator Media dan Komunikasi KOPHI SUMUT 2012/2013 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.